Jadi Introvert Bertentangan Dengan Sunnah Nabi?


Introver itu, orang yang minatnya ditujukan kepada yang ada di dalam pikiran dan perasaannya sendiri; orang yang bersikap tertutup. Beda sama ansos (anti sosial), introver hanya menjadi 'tertutup' ketika harus berpapasan dengan banyak orang, bukan 'anti' dalam bersosialisasi. Introver tetap bisa bergaul, membawa diri, bahkan asyik saat diajak mengobrol, tapi enggak too much—sebab kenyamanan mereka terletak saat sendirian atau dalam kesenyapan. 

Intinya, batrai sosial introver lebih cepat habis daripada orang dengan kecenderungan ekstrover. 

Nah, pertanyaannya, salah enggak sih jadi introver? Enggak. Pertama, karena tiap orang lahir dan tumbuh di lingkungan yang berbeda-beda sehingga karakternya pun terbentuk berbeda pula. Kedua, keberagaman itu sudah jadi kehendak Allah subhanallahu wa ta'ala, seperti yang tercantum dalam QS. Al-Maidah ayat 48 berikut:

وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ
"...Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja). Akan tetapi, Allah hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang selama ini kamu perselisihkan." 

Terus, apakah kecenderungan introversi ini bertentangan dengan tuntutan sosial dalam Islam? Enggak juga. Dalam Islam, kita dianjurkan untuk menebar senyum, beramah-tamah, saling menghormati, saling bertegur sapa, bersikap baik pada tetangga, dan mempererat tali silaturahmi. Anjuran-anjuran itu dilakukan introver juga, kok, karena pada dasarnya introver bukan ansos! 

Lagipula, Islam enggak meletakkan standar kebaikan sosial pada kuantitas interaksi, melainkan pada sikap dan niat. Hal ini tercermin dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:

حَدَّثَنِي أَبُو غَسَّانَ الْمِسْمَعِيُّ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ يَعْنِي الْخَرَّازَ عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ أَبِي ذَرِّ قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهِ طَلْقٍ
Telah menceritakan kepadaku Abu Ghassan al-Misma'i, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin 'Umar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir al-Khazzaz, dari Abu 'Imran al-Jauni, dari 'Abdullah bin ash-Shamit, dari Abu Dzar, ia berkata: Nabi ﷺ pernah bersabda kepadaku: "Janganlah engkau menganggap remeh sedikit pun terhadap kebaikan, walaupun engkau hanya sekedar bermuka ramah kepada saudaramu saat bertemu." 
[HR. Muslim No. 2626, Shahih Muslim, Bab استحباب طلاقة الوجه عند اللقاء, Juz. 8 hal. 37. HR. Ibnu Majah No. 696, Shahih Ibnu Majah, Bab ذكر البيان طلاقة وجه المرء المسلمين من المعروف, Juz. 2, hal. 282. HR. Ahmad No. 14709, Musnad Ahmad, Bab أبي رمثة رضي الله عنه , Juz. 23, hal. 58] 
 
Ramah tamah dalam hadis tersebut diasosiasikan dengan 'enggak meremehkan kebaikan dan anjuran menampakkan wajah yang lapang' ketika berjumpaan. Ini standar sosial dalam Islam yang diletakkan sebagai bare minimum bersikap di masyarakat. 

Menilik syarah hadis, Qadhi 'Iyad menjelaskan bahwa lafadz طلقٍ (baik itu dibaca thalq atau pun thaliq, keduanya sama-sama sah) bermakna 'wajah yang terbuka dan mudah (al-munbasith al-sahl)'. [Qadhi 'Iyad, Ikmal al-Mu'lim bi Fawaid Muslim, (Mesir: Dar al-Wafaa, 1419H/1998M), Juz. 8, hal. 106]

Sejalan dengan itu, al-Qurthubi juga menegaskan bahwa makna 'wajah yang lapang' enggak menunjuk pada ekspresi berlebihan, melainkan pada sikap yang enggak menolak dan enggak menyakiti dalam interaksi. [Al-Qurthubi, al-Mufhim lima Usykila min Talkhis Kitab Muslim, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1417H/1996M), Juz. 6, hal. 612]

Sehingga, secara praktikal, beramah-tamah yang dimaksud ialah menampakkan wajah cerah dan berbuat hal baik; seperti menyapa, tersenyum, mengucap salam. Hal-hal sederhana ini adalah adab minimal Muslim dalam relasi sosial, yang seyogyanya diterapkan secara proporsional sesuai kapasitas personal.

Kenapa sesuai kapasitas? Karena 'ramah-tamah' hanya adab dan bukan tuntutan syari'at, maka untuk tindakan kecenderungan menarik diri (seperti fenomena introver) sah-sah saja, kok! Selama masih dalam koridor adab yang dibenarkan seperti yang dijelaskan al-Qurthubi tadi.

Satu hal lagi, prinsip atau adab ramah-tamah ini juga harus disesuaikan dengan norma sosial antar budaya, ya! Soalnya, dalam masyarakat dengan aturan interaksi yang ketat dan ekspresi sosial yang terbatas, sikap ramah enggak selalu diekspresikan melalui keakraban verbal, gestur terbuka, atau mimik ceria. Misalnya seperti budaya interaksi sosial di negara Rusia, Korea Utara, atau negara serupa, yang memiliki batasan formal sangat kuat. Jadi, ayo saling toleransi dan beradaptasi! Seperti firman Allah subhanallahu wa ta'ala dalam QS. An-Nisa ayat 86 berikut:

وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا   
"Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." 

Sampai jumpa di kajian berikutnya! Ciao! 

Komentar